Rumah Yang Koyak Dan Hati Yang Memar
'Sebut saja, Niska.
Perempuan 18 tahun yang sedang mencoba bertahan dan mencintai takdir hidupnya'
'Rumahku adalah surgaku'.
Entah berapa kali istilah itu ku dengar. Tak habis fikir, bagaimana bisa rumah dikatakan surga? Jelas jauh berbeda bukan? Oh tidak, mungkin itu hanya menurutku tapi tidak menurut banyak orang.
Kata mereka rumah adalah tempat berpulang dan beristirahat dari segala kepenatan. Mungkin sehabis lelah bekerja, atau rumitnya mata pelajaran sekolah, bisa juga karena permasalahan dengan teman. Rumah adalah tempat ternyaman untuk berkeluh kesah-berbagi canda tawa dengan keluarga. Ada Ibu yang penyayang dan ayah yang humoris. Ahaa, Indah sekali ya cerita mereka?
Dulu aku ingat, semasa sekolah, hampir setiap hari ku lihat adegan, seorang paruh baya yang melambaikan tangan, mengecup kening atau juga memeluk hangat seorang anak yang hendak masuk kedalam sekolah.
Lucu sekali fikirku, aku bahkan lupa kapan terakhir kali Ibuku memberiku semangat untuk sekolah? Atau paling tidak, menyambutku dengan senyuman di pagi hari. Aku pun lupa, atau memang tidak pernah, kapan terakhir kali ayahku bertanya 'bagaimana keadaanmu hari ini, atau, bagaimana perasaan mu hari ini?'
Yang aku ingat hanya; setiap aku kembali pulang kerumah, aku mendengar ibu dan ayahku sedang beradu suara, tidak ada yang mau mengalah untuk memelankan volume suaranya, saling menyalahkan satu sama lain, dan ketika mereka melihatku, mereka langsung terdiam, seolah malu atau kehabisan nafas karena berteriak. Setelah itu, aku langsung disuruh cuci kaki, tangan, makan, dan tidur. Kejadian itu selalu terulang setiap harinya. Aneh memang.
Karena itu sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya, dimana letak kebenaran 'rumahku adalah surgaku?' bukankah surga penuh dengan keindahan dan ketenangan? Bukankah disurga tidak ada yang saling menyalahkan?
18 tahun aku hidup dalam kesia-siaan, di ambang kehancuran. Aku ingat betul bagaimana ketidakpedulian orangtuaku terhadap kewarasanku, dan semua itu masih terekam jelas di memori otakku.
Aku kehilangan arah, sejak aku SMA sering sekali pulang malam, hanya untuk sekedar nongkrong bersama teman-temanku. Untung saja, Allah masih menyelamatkanku dari pergaulan bebas, sehingga aku tidak terpengaruh oleh teman-temanku. Aku sering keluar rumah hanya untuk menghindari pertikaian orangtuaku.
Jika aku dirumah, apapun yang aku lakukan selalu salah. Aku merasa benar-benar kehilangan sosok "orangtua".
Sosok Ibu yang mereka bilang, penuh dengan cinta, pelukannya, perhatiannya, sang bidadari dalam rumah.
Sosok Ayah yang mereka bilang, penuh wibawa, bijaksana, bertanggungjawab, tegas, dan punya sebongkah nasihat-nasihat baik untuk anak-anaknya.
Ah, semua itu tabu bagiku.
Jika saja aku boleh menangis dan berteriak, aku ingin sekali berlari kemanapun, meminta agar Tuhan sudi menyatukan orangtua ku menjadi utuh dan bahagia.
Aku, sadar.
Bukan hanya aku yang paling menderita di dunia. Banyak orang yang dibesarkan tanpa seorang ayah, yang diasuh bukan dengan ibunya.
Lalu, apa bedanya denganku? Aku tinggal dengan kedua orangtua yang tidak pernah bersama. Baik raga, maupun hatinya. Hanya fisik yang tertinggal, di rumah yang kusebut 'rumah yang koyak'.
Mereka bagiku adalah sepasang orangtua yang tidak pernah mau berfikir dan memaafkan.
Hingga pada akhirnya,
Kalimat 'berpisah' itu pun menusuk telingaku. Hancur dinding-dinding pertahananku. :')
Hati yang memar bukan terobati, tapi malah ditambah sayatan luka lagi.
18 tahun aku mengenal sosok Ibu yang pemarah, dan sosok ayah yang dingin. Dan aku disuruh memilih salah satu pihak?
Bukannya kembali untuk saling memperbaiki, mereka malah memutuskan berpisah.
Bukan hal mudah bagiku, karena aku benar-benar merindukan. .
Rindu sejenak mendengarkan cerita dari Ibu, dan rindu sejenak meminum teh hangat di teras rumah sambil bercanda bersama ayah, diselingi nasihat untuk anak perempuannya.
"Tuhan, aku mencoba mencintai Takdir yang Engkau berikan. Jika bukan karena-Mu, aku tidak mungkin bertahan. Dan kini aku cukup dewasa untuk mengerti. Bahwa ada hati yang tidak bisa dipaksa untuk bersama dalam satu atap. Karena itu, hanya akan membuat keduanya sama-sama saling menyakiti.."
Aku harus mengubur dalam-dalam semua impianku untuk merasakan kembali keutuhan di keluargaku.
Aku yang harus menerima kehancuran dari sebab yang aku sendiri pun tidak pernah mengerti.
Yang aku tahu mereka tidak benar-benar saling mencintai.. karena jika mencintai, pasti saling memaafkan dan memahami :')
Perempuan 18 tahun yang sedang mencoba bertahan dan mencintai takdir hidupnya'
'Rumahku adalah surgaku'.
Entah berapa kali istilah itu ku dengar. Tak habis fikir, bagaimana bisa rumah dikatakan surga? Jelas jauh berbeda bukan? Oh tidak, mungkin itu hanya menurutku tapi tidak menurut banyak orang.
Kata mereka rumah adalah tempat berpulang dan beristirahat dari segala kepenatan. Mungkin sehabis lelah bekerja, atau rumitnya mata pelajaran sekolah, bisa juga karena permasalahan dengan teman. Rumah adalah tempat ternyaman untuk berkeluh kesah-berbagi canda tawa dengan keluarga. Ada Ibu yang penyayang dan ayah yang humoris. Ahaa, Indah sekali ya cerita mereka?
Dulu aku ingat, semasa sekolah, hampir setiap hari ku lihat adegan, seorang paruh baya yang melambaikan tangan, mengecup kening atau juga memeluk hangat seorang anak yang hendak masuk kedalam sekolah.
Lucu sekali fikirku, aku bahkan lupa kapan terakhir kali Ibuku memberiku semangat untuk sekolah? Atau paling tidak, menyambutku dengan senyuman di pagi hari. Aku pun lupa, atau memang tidak pernah, kapan terakhir kali ayahku bertanya 'bagaimana keadaanmu hari ini, atau, bagaimana perasaan mu hari ini?'
Yang aku ingat hanya; setiap aku kembali pulang kerumah, aku mendengar ibu dan ayahku sedang beradu suara, tidak ada yang mau mengalah untuk memelankan volume suaranya, saling menyalahkan satu sama lain, dan ketika mereka melihatku, mereka langsung terdiam, seolah malu atau kehabisan nafas karena berteriak. Setelah itu, aku langsung disuruh cuci kaki, tangan, makan, dan tidur. Kejadian itu selalu terulang setiap harinya. Aneh memang.
Karena itu sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya, dimana letak kebenaran 'rumahku adalah surgaku?' bukankah surga penuh dengan keindahan dan ketenangan? Bukankah disurga tidak ada yang saling menyalahkan?
18 tahun aku hidup dalam kesia-siaan, di ambang kehancuran. Aku ingat betul bagaimana ketidakpedulian orangtuaku terhadap kewarasanku, dan semua itu masih terekam jelas di memori otakku.
Aku kehilangan arah, sejak aku SMA sering sekali pulang malam, hanya untuk sekedar nongkrong bersama teman-temanku. Untung saja, Allah masih menyelamatkanku dari pergaulan bebas, sehingga aku tidak terpengaruh oleh teman-temanku. Aku sering keluar rumah hanya untuk menghindari pertikaian orangtuaku.
Jika aku dirumah, apapun yang aku lakukan selalu salah. Aku merasa benar-benar kehilangan sosok "orangtua".
Sosok Ibu yang mereka bilang, penuh dengan cinta, pelukannya, perhatiannya, sang bidadari dalam rumah.
Sosok Ayah yang mereka bilang, penuh wibawa, bijaksana, bertanggungjawab, tegas, dan punya sebongkah nasihat-nasihat baik untuk anak-anaknya.
Ah, semua itu tabu bagiku.
Jika saja aku boleh menangis dan berteriak, aku ingin sekali berlari kemanapun, meminta agar Tuhan sudi menyatukan orangtua ku menjadi utuh dan bahagia.
Aku, sadar.
Bukan hanya aku yang paling menderita di dunia. Banyak orang yang dibesarkan tanpa seorang ayah, yang diasuh bukan dengan ibunya.
Lalu, apa bedanya denganku? Aku tinggal dengan kedua orangtua yang tidak pernah bersama. Baik raga, maupun hatinya. Hanya fisik yang tertinggal, di rumah yang kusebut 'rumah yang koyak'.
Mereka bagiku adalah sepasang orangtua yang tidak pernah mau berfikir dan memaafkan.
Hingga pada akhirnya,
Kalimat 'berpisah' itu pun menusuk telingaku. Hancur dinding-dinding pertahananku. :')
Hati yang memar bukan terobati, tapi malah ditambah sayatan luka lagi.
18 tahun aku mengenal sosok Ibu yang pemarah, dan sosok ayah yang dingin. Dan aku disuruh memilih salah satu pihak?
Bukannya kembali untuk saling memperbaiki, mereka malah memutuskan berpisah.
Bukan hal mudah bagiku, karena aku benar-benar merindukan. .
Rindu sejenak mendengarkan cerita dari Ibu, dan rindu sejenak meminum teh hangat di teras rumah sambil bercanda bersama ayah, diselingi nasihat untuk anak perempuannya.
"Tuhan, aku mencoba mencintai Takdir yang Engkau berikan. Jika bukan karena-Mu, aku tidak mungkin bertahan. Dan kini aku cukup dewasa untuk mengerti. Bahwa ada hati yang tidak bisa dipaksa untuk bersama dalam satu atap. Karena itu, hanya akan membuat keduanya sama-sama saling menyakiti.."
Aku harus mengubur dalam-dalam semua impianku untuk merasakan kembali keutuhan di keluargaku.
Aku yang harus menerima kehancuran dari sebab yang aku sendiri pun tidak pernah mengerti.
Yang aku tahu mereka tidak benar-benar saling mencintai.. karena jika mencintai, pasti saling memaafkan dan memahami :')
...
Ayah, Ibu.
Izinkan aku kembali menata masa depanku, dan menjadikan diriku lebih baik. Agar kelak, aku tidak melakukan hal yang sama kepada anak-anakku. Mereka berhak merasakan kasih sayang dari orangtuanya dan tidak mendapatkan luka yang sama, seperti yang aku terima.
Semoga Allah selalu menjaga Ayah dan Ibu dimanapun berada.
Aku selalu menyayangi Ayah dan Ibu, mudah-mudahan doaku sampai kepada Ayah dan Ibu.
Aku selalu menyayangi Ayah dan Ibu, mudah-mudahan doaku sampai kepada Ayah dan Ibu.
Aku disini, memilih untuk tidak berpihak pada siapapun. Dan berdiri diatas kaki ku sendiri.
Terimakasih untuk,
Rumah yang koyak, dan hati yang memar..
#brokenhome 💔
#brokenhome 💔
***
@na_liaalfianti
