Pengikut

Minggu, 18 Agustus 2019

Rumah Yang Koyak dan Hati Yang Memar


Rumah Yang Koyak Dan Hati Yang Memar






'Sebut saja, Niska.
Perempuan 18 tahun yang sedang mencoba bertahan dan mencintai takdir hidupnya'

'Rumahku adalah surgaku'. 
Entah berapa kali istilah itu ku dengar. Tak habis fikir, bagaimana bisa rumah dikatakan surga? Jelas jauh berbeda bukan? Oh tidak, mungkin itu hanya menurutku tapi tidak menurut banyak orang. 

Kata mereka rumah adalah tempat berpulang dan beristirahat dari segala kepenatan. Mungkin sehabis lelah bekerja, atau rumitnya mata pelajaran sekolah, bisa juga karena permasalahan dengan teman. Rumah adalah tempat ternyaman untuk berkeluh kesah-berbagi canda tawa dengan keluarga. Ada Ibu yang penyayang dan ayah yang humoris. Ahaa, Indah sekali ya cerita mereka?


Dulu aku ingat, semasa sekolah, hampir setiap hari ku lihat adegan, seorang paruh baya yang melambaikan tangan, mengecup kening atau juga memeluk hangat seorang anak yang hendak masuk kedalam sekolah.
Lucu sekali fikirku, aku bahkan lupa kapan terakhir kali Ibuku memberiku semangat untuk sekolah? Atau paling tidak, menyambutku dengan senyuman di pagi hari. Aku pun lupa, atau memang tidak pernah, kapan terakhir kali ayahku bertanya 'bagaimana keadaanmu hari ini, atau, bagaimana perasaan mu hari ini?'

Yang aku ingat hanya; setiap aku kembali pulang kerumah, aku mendengar ibu dan ayahku sedang beradu suara, tidak ada yang mau mengalah untuk memelankan volume suaranya, saling menyalahkan satu sama lain, dan ketika mereka melihatku, mereka langsung terdiam, seolah malu atau kehabisan nafas karena berteriak. Setelah itu, aku langsung disuruh cuci kaki, tangan, makan, dan tidur. Kejadian itu selalu terulang setiap harinya. Aneh memang.

Karena itu sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya, dimana letak kebenaran 'rumahku adalah surgaku?' bukankah surga penuh dengan keindahan dan ketenangan? Bukankah disurga tidak ada yang saling menyalahkan?

18 tahun aku hidup dalam kesia-siaan, di ambang kehancuran. Aku ingat betul bagaimana ketidakpedulian orangtuaku terhadap kewarasanku, dan semua itu masih terekam jelas di memori otakku.

Aku kehilangan arah, sejak aku SMA sering sekali pulang malam, hanya untuk sekedar nongkrong bersama teman-temanku. Untung saja, Allah masih menyelamatkanku dari pergaulan bebas, sehingga aku tidak terpengaruh oleh teman-temanku. Aku sering keluar rumah hanya untuk menghindari pertikaian orangtuaku.
 
Jika aku dirumah, apapun yang aku lakukan selalu salah. Aku merasa benar-benar kehilangan sosok "orangtua".
Sosok Ibu yang mereka bilang, penuh dengan cinta, pelukannya, perhatiannya, sang bidadari dalam rumah.
Sosok Ayah yang mereka bilang, penuh wibawa, bijaksana, bertanggungjawab, tegas, dan punya sebongkah nasihat-nasihat baik untuk anak-anaknya.

Ah, semua itu tabu bagiku.

Jika saja aku boleh menangis dan berteriak, aku ingin sekali berlari kemanapun, meminta agar Tuhan sudi menyatukan orangtua ku menjadi utuh dan bahagia.

Aku, sadar.
Bukan hanya aku yang paling menderita di dunia. Banyak orang yang dibesarkan tanpa seorang ayah, yang diasuh bukan dengan ibunya.

Lalu, apa bedanya denganku? Aku tinggal dengan kedua orangtua yang tidak pernah bersama. Baik raga, maupun hatinya. Hanya fisik yang tertinggal, di rumah yang kusebut 'rumah yang koyak'.
Mereka bagiku adalah sepasang orangtua yang tidak pernah mau berfikir dan memaafkan.

Hingga pada akhirnya,
Kalimat 'berpisah' itu pun menusuk telingaku. Hancur dinding-dinding pertahananku. :')

Hati yang memar bukan terobati, tapi malah ditambah sayatan luka lagi.
18 tahun aku mengenal sosok Ibu yang pemarah, dan sosok ayah yang dingin. Dan aku disuruh memilih salah satu pihak?
Bukannya kembali untuk saling memperbaiki, mereka malah memutuskan berpisah.

Bukan hal mudah bagiku, karena aku benar-benar merindukan. .
Rindu sejenak mendengarkan cerita dari Ibu, dan rindu sejenak meminum teh hangat di teras rumah sambil bercanda bersama ayah, diselingi nasihat untuk anak perempuannya.

"Tuhan, aku mencoba mencintai Takdir yang Engkau berikan. Jika bukan karena-Mu, aku tidak mungkin bertahan. Dan kini aku cukup dewasa untuk mengerti. Bahwa ada hati yang tidak bisa dipaksa untuk bersama dalam satu atap. Karena itu, hanya akan membuat keduanya sama-sama saling menyakiti.."

Aku harus mengubur dalam-dalam semua impianku untuk merasakan kembali keutuhan di keluargaku.

Aku yang harus menerima kehancuran dari sebab yang aku sendiri pun tidak pernah mengerti. 
Yang aku tahu mereka tidak benar-benar saling mencintai.. karena jika mencintai, pasti saling memaafkan dan memahami :')
...
Ayah, Ibu.
Izinkan aku kembali menata masa depanku, dan menjadikan diriku lebih baik. Agar kelak, aku tidak melakukan hal yang sama kepada anak-anakku. Mereka berhak merasakan kasih sayang dari orangtuanya dan tidak mendapatkan luka yang sama, seperti yang aku terima.

Semoga Allah selalu menjaga Ayah dan Ibu dimanapun berada.
Aku selalu menyayangi Ayah dan Ibu, mudah-mudahan doaku sampai kepada Ayah dan Ibu.

Aku disini, memilih untuk tidak berpihak pada siapapun. Dan berdiri diatas kaki ku sendiri.


Terimakasih untuk,
Rumah yang koyak, dan hati yang memar..


#brokenhome 💔

***

@na_liaalfianti 

Jumat, 14 Juni 2019

Wanita Pertama Yang Jatuh Cinta Padamu

Wanita Pertama Yang Jatuh Cinta Padamu
Oleh : Nurlia Alfianti


"Ibu, Izinkan aku menikah dengan perempuan yang menjadi pilihanku.." ujar laki-laki berusia 25 tahun itu pada Ibunya ketika tengah duduk di teras depan rumah.
"Siapa dia, nak?" Tanya ibunya.
"Insyaa Allah akan ku kenalkan kepada Ibu, nanti." Jawabnya.
"Apakah kamu sudah yakin dan mantap ingin menikah?"
"InsyaaAllah saya yakin dan saya siap Ibu.."
Laki-laki itu meyakinkan Ibunya. Ibunya tersenyum lirih dan menghela nafas panjang. Lalu dia bangkit berdiri, masuk ke dalam kamarnya.
Tak disangka di dalam kamar Ibunya merenung dan meneteskan airmata. Ia melihat ke arah gambar (foto anak laki-lakinya dan suaminya).
"Ibu tak menyangka kalau kamu sudah besar nak. Ibu telah kehilangan ayahmu, dan sekarang Ibu harus merelakanmu pergi bersama wanita yang kau cintai. Ibu rasa baru kemarin Ibu mengajakmu bermain sepeda sambil menyuapi mu makan. Hehe, Ibu rindu sekali. Sekarang kamu sudah besar, dan Ibu harus menerima kenyataan ini.. insyaa Allah Ibu ikhlas. Mudah-mudahan wanita yang menjadi pilihanmu adalah yang terbaik menurut Allah.."
Ibu itu mengusap matanya yang lembab karena airmata. Dia pun mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat duha.
***
Keesokan harinya, laki-laki itu mengajak perempuannya untuk datang kerumah, berkenalan dengan Ibunya. Perempuan itu sangat baik dan sopan terhadap Ibunya. Pakaiannya juga rapih dan santun, meski belum berhijab. 
Ditengah pembicaraan, Ibu itu bertanya kepada perempuannya, "Apa yang membuat kamu jatuh hati pada Fadli anak saya? Sedangkan dia belum mempunyai rumah dan harta yang banyak." Tanyanya.
"Karena saya nyaman bu dengan Fadli, masalah harta bisa kita cari bersama." Ibunya tersenyum.
Akhirnya ditentukan tanggal kapan Fadli akan datang kerumah perempuan itu untuk meng-khitbahnya.

"Semoga kamu tetap menjadi anak yang berbakti ya nak, meskipun sudah menikah. Ingat selalu dengan Ibumu. Tapi juga jangan abaikan tanggungjawabmu sebagai seorang suami.." pesan Ibunya suatu hari.
"InsyaAllah, saya tidak akan melupakan Ibu. Dan mengerti tanggungjawab sebagai seorang suami.."
Ibu itu tersenyum.

Sepanjang hari sebelum waktu itu sampai, Ibunya terus berdoa dan memohon pada Allah yang terbaik untuk fadli dan calon istrinya.

Hingga tiba hari pernikahan itu tiba, Fadli dan Tasya (Istrinya) sangat bahagia menyambut hari itu. Akhirnya mereka sah menjadi sepasang suami isteri. Orangtua merekapun turut berbahagia.

Alhamdulillaah, barakallaah.

***

Keesokan harinya, Fadli dan Tasya mengemas barang-barangnya untuk pindah ke rumah barunya.
"Kalian pindah sekarang? Tidak nanti saja, dua hari atau seminggu lagi pun tidak apa-apa disini dulu bersama Ibu." Ujar Ibu Fadli.
"Tidak usah bu, kami sudah menghubungi orang yang menyewakan rumahnya untuk datang hari ini juga. Jadi kami pamit dulu ya bu." Ujar Fadli.
Mereka pun bersalaman dengan Ibunya.
"Hati-hati ya, sering-sering datang kesini ya." Pesan Ibunya.
Tanpa dijawab, merekapun segera pergi dengan kendaraannya.

***
Satu minggu berlalu. Dua minggu berlalu. Hari-haripun berlalu setelah hari pernikahan anaknya. Ibu Fadli merasakan kesepian yang amat mendalam. Karena Fadli juga tak kunjung datang kerumahnya. Padahal, Ibu sering sekali melihat status-status anaknya sedang liburan bersama istrinya, bersama keluarga istrinya.
"Tidak apa.. mungkin Fadli sedang bahagia bersama keluarga barunya.."
Tapi tentu ada kesedihan di hati kecil Ibunya, mengapa Fadli tak mengajaknya untuk pergi liburan bersamanya.. Hmm..

***
Dua bulan pun berlalu. Fadli masih tak kunjung menemui Ibunya. Akhirnya, Ibu pun mencoba menghubungi Fadli..

"Nak, kapan mau main kesini? Ibu rindu hehe.."

"Maaf Ibu, Saya masih sibuk kerja. Tasya juga kerja. Jadi belum sempat menengok Ibu."

"Oh iya tidak apa. Ibu tunggu ya, nak."

Pesan itu pun hanya dibaca oleh anaknya. 

***
"Hari ini kamu libur? Kerumah Ibuku yuk." Ajak Fadli pada Istrinya.
"Maaf mas, aku masih capek. Lain waktu aja ya." Jawab istrinya.
"Ya udah, kalau gitu aku aja yang kerumah Ibuku. Mumpung libur."
"Loh kamu gak mau nemenin aku dirumah? Katanya kamu mau benerin keran air yang rusak."
"Oh iya, yaudah deh."
***
Ibu itu masih berusaha agar bisa bertemu dengan anaknya. Akhirnya ibu pun menghubungi Tasya Istri anaknya.
"Tasya, apa kabar? Kapan main kerumah Ibu?"
"Baik bu, belum tau bu, Tasya sekarang sedang hamil jadi butuh banyak bedrest. Maaf ya bu."
"Kamu hamil? Alhamdulillah. Kalau gitu ibu saja yang datang kerumah mu ya?"
"Eh.. tidak usah bu. Nanti kita aja yang kerumah."
"Oh..baik lah kalau gitu nak.. semoga baik-baik dan sehat selalu ya, kandungannya. Ibu tak sabar menggendong cucu pertama Ibu."
Lagi-lagi pesan itu hanya dibaca saja.
***
Menjelang hari kelahiran anaknya, Fadli masih tak kunjung menemui Ibunya. Padahal Ibunya sangat berharap dapat menemani Tasya di rumah sakit dan menggendong cucunya.
Kring..kring.. suara telepon berbunyi.
"Fadli dimana rumah sakitnya biar Ibu kesana untuk menengok?" Suara Ibu di penghujung telepon.
"Ibu, kenapa telepon? Fadli sedang sibuk menyiapkan lahiran Tasya. Ibu tidak usah kesini, lagipula jauh. Sudah ya bu."
Fadlipun mematikan telepon begitu saja.

Ibu itu terdiam. Menatap layar handphone dengan mata yang sayu. Ia mulai berfikir, mengapa anak laki-lakinya menjadi seperti ini. Dia mulai melupakan Ibunya, tidak pernah mengunjunginya, bahkan hanya untuk sekedar menyapa lewat telepon pun tidak pernah.

Satu tahun berlalu..

Masih dengan hari-hari yang terlewati begitu saja, Ibu masih mengharapkan kehadiran anaknya dan juga cucunya yang tak kunjung datang jua.

Hingga pada suatu hari, Ibunya jatuh sakit. Dia dilarikan kerumah sakit bersama tetangganya. Tetangganya menghubungi Fadli anaknya untuk datang kerumah sakit tersebut. 
Fadli tersentak kaget, Ia segera mengajak anak dan isterinya untuk menjenguk Ibunya.
***
"Dokter, Ibu saya sakit apa??" Tanya Fadli dengan nada lirih.
"Ibu anda mengalami sakit paru obstruktif kronis. Sesak nafas yang telah akut. Karena terlambat ditangani, jadi kecil kemungkinan agar Ibu anda  bisa selamat.."
"Ya Allah.." Fadli pun terisak menangis sejadi-jadinya. Ia pun menghampiri Ibunya.

"Ibu, maafkan Fadli karena tidak pernah menjenguk Ibu, Fadli Tidak tahu jika Ibu sakit. Fadli menyesal bu.."
Ibu itu tersenyum.
"Ibu yang menyesal Fadli. Mungkin selama ini Ibu kurang baik dalam mendidik dan mengasuhmu. Keteladanan Uwais Al-Qorni yang pernah Ibu ceritakan kepadamu, mungkin juga belum melekat pada dirimu, nak.."
Fadli menangis sejadi-jadinya. Dia lupa tentang semua pengajaran ibunya kepadanya, dia begitu lalai dengan semuanya. 
"Ibu, maafkan Fadli..Bu.." 

Ibu itu tersenyum, masih dengan nafas yang terengah-engah.
"Nak, Ibu tidak pernah melarangmu untuk jatuh hati pada siapapun. Karena itu sudah menjadi fitrahmu. Ketika kamu meminta izin untuk menikah, apa Ibu melarang? Ibu terus mendoakan kebaikanmu. Ibu lihat dia juga wanita yang baik untukmu.
Tapi lama haripun kau tak kunjung menemui Ibu. Sesibuk itukah dirimu?
Ibu dan Ayahmu pun tak meminta banyak padamu. Hanya meminta kau tak pernah melupakan kami dan temui kami saat kami sudah beranjak tua. Ayahmu sudah mendahului kita, mungkin sebentar lagi Ibu akan menyusulnya.." ujarnya.
Fadli tak kuat lagi, ia pun mencium tangan Ibunya dan menangis sejadi-jadinya.
"Nak Ibu tahu dia wanita yang kau cintai dan kau bersedia melakukan apapun untuk keluargamu, itu baik nak. Karena itu sudah tanggungjawabmu sebagai kepala keluarga.
Tapi tak lantas membuat mu melupakan ibu mu sendiri.. hiks..
Dulu, 9 bulan kau dalam kandungan Ibu.. Ibu begitu menanti-nanti kehadiranmu selama 10 tahun pernikahan, Ibu baru bisa memilikimu, dan kau menjadi satu-satunya harapan kami. 
Ibu mu ini nak, meski tak cantik seperti istrimu, meski tak seperti bidadari. Tapi Ibu lah wanita pertama yang jatuh cinta padamu. Ibu tak pernah tahu bagaimana wujudmu ketika dalam kandungan Ibu, tapi Ibu tetap mencintaimu. Ibu mencintai dan menerimamu bagaimanapun kamu nanti terlahir.. Ibu tetap menjagamu meskipun Ibu tak tahu bagaimana rupamu waktu itu. 9 bulan dalam pengorbanan dan perjuangan melawan kesakitan, tapi penuh keikhlasan dan dambaan yang teramat dalam untukmu dan tentangmu selalu Ibu utamakan..
Mungkin Ibu lupa berbicara padamu Fadli, menjadi seorang laki-laki memang besar tanggung jawabnya, itulah alasan mengapa Allah lebihkan akal pada laki-laki. 
Saat engkau telah menikah, selain bertanggung jawab terhadap keluargamu, kaupun masih memiliki tanggung jawab terhadap Ibumu. 
Ini bukan tentang pilihan, Ibumu atau Istrimu, bukan.
Tapi kau harus tahu, dan bisa membagi prioritas. Ibu tak butuh hartamu, Ibu tak butuh barang-barangmu. Ibu hanya membutuhkan kehadiranmu, apa itu sulit? 
Temani Ibu, bersama Istri dan anakmu. Hadirkan kebahagiaan dan canda tawa dirumah Ibu, meski hanya sebentar. Apa itu sulit bagimu dan keluargamu?
Kau bisa berbagi tawa pada keluargamu yang baru, apa tak ada niat di hatimu untuk mengajak Ibumu yang mulai renta dan kesepian ini? Hiks.. "
Ibu menangis tersendu-sendu.
"Tapi sudahlah Fadli. Tak perlu disesali. Ibu bahagia telah memilikimu di dunia. Semoga kamu bahagia bersama Istri dan anakmu.  Didiklah istrimu menjadi istri yang baik.. berbaktilah pada Mertuamu, sebagaimana engkau berbakti pada orangtuamu sendiri.. maafkan Ibu yang belum bisa menjadi orangtua yang baik untukmu.. untuk yang pertama dan terakhir bolehkah Ibu bertemu cucu Ibu..?"

Sambil menangis Fadli mengajak Istri dan anaknya untuk masuk kedalam ruangan. Ibu melihat cucunya dengan tersenyum. Fadli dan Tasya pun sangat menyesal, mereka pun memohon ampun pada Ibunya sambil mencium tangan dan kaki Ibunya..

"Ibu maafkan Fadli.. Fadli sangat menyesal Bu.."

Nafas Ibu terengah-engah. Fadli memanggil dokter untuk memeriksa Ibunya. Dokter mengecek nadi serta pernafasan Ibunya..

Lalu..

"Innalillaahi Wa Innailayhi Rojiuun.. mohon maaf pak, Ibu anda telah meninggal dunia.."

"Astagfirullah ya Allah Ibu!!!!!!:'(:'("

Penyesalan yang amat terdalam bagi Fadli, dan juga Istrinya adalah karena mereka tak pernah mengunjungi Ibu selama hidup, dan kini mereka tak lagi bisa berbakti.

***
" Ibu adalah wanita pertama yang jatuh cinta kepada kita, anaknya.
Sudah sepatutnya, sebagai anak kita pun menyadari itu.
Bakti dan Taat kepada orangtua adalah salah satu ketaatan kita kepada Allah.

Laki-laki yang baik, meski telah menikah, tetap memiliki tanggungjawab terhadap Ibunya. Dan yang pasti, juga memberikan kesempatan kepada Istrinya untuk berbakti pada orangtuanya.

Perempuan yang baikpun mestinya juga menyadari bahwa laki-lakinya telah dilahirkan oleh seorang wanita yang menjadi Ibu dari laki-lakinya. Sudah sepatutnya menjadi seseorang yang memberi dukungan serta motivasi agar suaminya tetap bisa berbakti pada Ibunya.

Terlebih dari semua itu, keduanya tetap tidak melupakan tanggungjawab masing-masing sebagai suami dan Istri. Bersama-sama berbakti kepada orangtua. "

Barakallaahu Fiikum.

Q.S Luqman: 14
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَا لِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَا لِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
wa washshoinal-insaana biwaalidaiih, hamalat-hu ummuhuu wahnan 'alaa wahniw wa fishooluhuu fii 'aamaini anisykur lii wa liwaalidaiik, ilayyal-mashiir

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."